Skip to Content

Dillard Design

Segala hal yang berkaitan dengan Design dan Seni

Fintech 2. 0 serta 3. 0, Apa Bedanya?

Be First!
by September 26, 2017 Bisnis

Pesatnya perubahan tehnologi mendorong juga perubahan perusahaan rintisan (startup) serta service keuangan berbasiskan tehnologi (financial technology/fintech). Tetapi, terdapat banyak kategorisasi fintech yang tidak sering di ketahui orang-orang.

Direktur Inovasi Keuangan Digital Otoritas Layanan Keuangan (OJK) Fithri Hadi menjelaskan, fintech bisa dibedakan jadi fintech 2. 0 serta 3. 0. Apa ketidaksamaannya?

” Fintech 2. 0 yaitu instansi layanan keuangan yang telah memperoleh lisensi jadi perusahaan keuangan yang berinovasi memakai tehnologi digital untuk tingkatkan akses pasarnya, ” kata Fithri dalam seminar di Bursa Dampak Indonesia (BEI), Senin (25/9/2017).

Fithri menerangkan, fintech 2. 0 itu digunakan oleh perusahaan layanan keuangan untuk mencapai customer. Diluar itu, fintech juga digunakan perusahaan untuk turunkan cost operasional mereka.

Terkecuali fintech 2. 0, ada juga fintech 3. 0. Berlainan dengan fintech 2. 0, fintech 3. 0 bisa didefinisikan jadi perusahaan yg tidak memiliki lisensi layanan keuangan, namun dapat memberi service keuangan untuk customer. ” Rata-rata mereka yaitu perusahaan tehnologi atau perusahaan telekomunikasi, ” ungkap Fithri.

Hadirnya fintech 3. 0, tambah dia, bisa disebutkan revolusioner. Pasalnya, perusahaan-perusahaan serta service yang di tawarkan belumlah ada terlebih dulu. Hadirnya fintech 3. 0, papar Fithri didorong oleh trend tehnologi yang begitu masif. Diluar itu, jenis usaha yang didatangkan perusahaan-perusahaan yang digolongkan jadi fintech 3. 0 juga tidak sama.

” Tak ada kantor, memercayakan basis on-line, serta servicenya juga padu padan dengan bidang yang telah ada terlebih dulu, ” papar Fithri.

Ia berikan contoh yaitu fintech yang tawarkan service peer-to-peer lending. Menurutnya, service ini mengombinasikan service pembiayaan atau utang dengan investasi.

Dengan pesatnya perkembangan fintech, jadi peta persaingan perebutan pada fintech dengan service keuangan konvensional jadi seru. Pasalnya, tambah Fithri, pertandingan jadi tidak bidangal serta jadi jadi pertandingan bebas.

OJK Selekasnya Atur Kontrak Pinjam Meminjam di Fintech

Otoritas Layanan Keuangan (OJK) selekasnya mengatur kontrak pinjam meminjam dalam perusahaan tehnologi untuk berbasiskan aplikasi untuk service keuangan (financial technology/fintech) untuk kurun waktu dekat.

OJK juga akan keluarkan Surat Edaran (SE) mengenai dasar kontrak utang meminjam fintech. Hal semacam ini jadikan OJK makin serius dalam mengatur usaha fintech, terlebih fintech di peer-to-peer lending (P2P) atau fintech untuk service pinjam meminjam.

Direktur Penyusunan Perizinan serta Pengawasan Fintech OJK, Hendrikus Passagi menuturkan, surat edaran itu juga akan mengatur tentang kontrak pinjam meminjam serta perlakuan resiko bila berlangsung tidak berhasil bayar utang.

” Dalam tata langkah pinjam meminjam juga akan ditata dengan detil bunyi kontraknya serta bagaimana perlakuan resikonya, ” tutur dia.

OJK akan mengatur mekanisme know your konsumen (KYC) fintech. Menurut Hendrikus, KYC yang juga akan dipakai fintech mesti memakai tehnologi seperti ranah usaha yang digerakkan sekarang ini.

” OJK menginginkan mendorong KYC fintech memakai aplikasi, ” tutur dia, Selasa (28/8/2017).

Aplikasi itu meliputi tanda tangan digital, scan muka, finger print, biometrik serta video conference. Cara ini, menurut Hendrikus, dapat menukar KYC yang sampai kini diperlukan.

OJK mengharapkan surat edaran ini juga akan selekasnya di keluarkan tidak lebih dalam satu tahun ke depan. ” Kami masih tetap mencari saat yang cocok. Namun yang tentu secepat-cepatnya, ” tutur Hendrikus. Terlebih sekarang ini, usaha fintech berkembang cukup cepat.

OJK sudah berikan izin 16 fintech. Delapan perusahaan salah satunya sudah menyalurkan pembiayaan Rp 1 triliun.

” Untuk kami nilai pembiayaan tidak perlu, yang terutama yaitu jangkauan fintech dalam penyaluran pembiayaan, ” tutur Hendrikus.

Diluar itu, ada 44 perusahaan yang telah lakukan pendaftaran namun masih tetap belum juga usai sistem verifikasinya.

Sedang, sejumlah 35 perusahaan fintech yang lain telah memajukan surat yang diisi ketertarikan mereka untuk lakukan pendaftaran.

Fintech Siap

Crowdo Indonesia mengakui siap menggerakkan ketentuan yang juga akan diberlakukan oleh OJK. Sekarang ini, Crowdo sudah mempunyai aplikasi untuk ketahui nasabah mereka.

” Sampai kini, kami memakai system unggah data nasabah seperti KTP atau data pelengkap yang lain, ” tutur Leo Shimada, CEO Crowdo.

Perusahaan P2P yang sudah memperoleh izin dari OJK ini mengakui juga akan meningkatkan service seperti biometrik serta video conference untuk mengetahui nasabah.

Previous
Next

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*