Skip to Content

Dillard Design

Segala hal yang berkaitan dengan Design dan Seni

Ingin Nyobain Sate Kere? Sambangi Pasar Kangen Jogja

Be First!
by July 20, 2016 Kuliner

sate-kereMelestarikan kebiasaan supaya jangan pernah dilupakan atau hilang ditelan jaman, berikut yang dikerjakan oleh Ibu Bagyo penjual makanan tradisional serta Dian, penjual sate kere di stand Pasar Kangen Jogja.

Masuk halaman Taman Budaya Yogyakarta tempat digelarnya Pasar Kangen Jogja, tampak kepulan asap dengan aroma khas sate kere asli Yogyakarta yang memiliki bahan gajih atau lemak sapi. Terlihat juga beberapa pengunjung berjajar mengantre beli sate yang sekarang ini makin tidak sering didapati di Yogyakarta.

Sebagian pengunjung yang lebih dahulu datang tampak lahap menyantap sate kere yang dihidangkan dengan pincuk daun pisang. Walau sebenarnya dulu, di tiap-tiap ada pertunjukan wayang kulit maupun Jathilan di desa-desa dengan gampang didapati penjual sate kere.

Sekarang ini, satu diantara tempat untuk memperoleh sate kere ada di emperan Pasar Beringharjo kota Yogyakarta. ” Saat ini tidak sering mas. Walau sebenarnya dahulu jaman kecil banyak yang jual, ” tutur Dian, penjual sate kere di Pasar Kangen Jogja waktu didapati KompasTravel, Kamis (21/7/2016).

Menurut Dian, ada dua type sate kere yaitu khas Yogyakarta serta Solo. Sate kere di Solo memiliki bahan tempe gembus, sedang sate kere khas Yogyakarta memiliki bahan gajih atau lemak sapi. ” Di stand ini ada dua, khas Solo serta Yogya. Konsumen dapat pesan dengan lontong juga, ” tegasnya.

Mahasiswa Kampus Negeri Yogyakarta (UNY) ini mengakui tak berjualan dirumah. Ia berbarengan rekannya berniat berjualan sate kere di Pasar Kangen untuk memanjakan pengunjung yang menginginkan bernostalgia dengan sate kere.

Diluar itu juga menginginkan supaya kawula muda tahu bila jaman dahulu ada varian sate yang melegenda yaitu sate kere. ” Satu porsinya Rp 10. 000, namun bila campur (sate kere khas Yogya serta Solo) Rp 15. 000, ” ucapnya.

Warga Banguntapan Bantul ini, mengakui dari mulai hari pertama di Pasar Kangen Jogja s/d hari ke-2, sate kere disukai pengunjung. Umumnya mereka pesan sate kere campur.

Disamping itu, Ibu Bagyo mengemukakan Pasar Kangen pertama ia senantiasa turut buka stand kuliner. Di standnya ia menjual makanan khas tradisional jaman dahulu, diantaranya legondo, gatot, cenil, tiwul, klepon, lupis, gethuk, jenang grendul, jenang sumsum, jenang mutiara serta hawuk-hawuk.

” Semuanya dimasak sendiri. Tanpa ada pengawet maupun pemanis buatan, semuanya alami seperti gula jawa serta gula aren, ” urainya.

Ia mengemukakan, harga agar bisa nikmati makanan tradisional di standnya cukup murah. Penyajiannya juga tak memakai piring tetapi jenang dengan pincuk daun pisang.

Seperti jaman dulu, pengunjung menyantap jenang dengan ” suru ” (sendok dari daun pisang).
Sepanjang dua hari penyelenggaraan Pasar Kangen Jogja, yang paling diburu konsumen di standnya yaitu lopis, cenil, klepon serta jenang.

Ibu Bagyo menjelaskan, terkecuali buka stand di Pasar Kangen Jogja ia juga berjualan di Pasar Kolombo. Baginya berjualan makanan tradisional tidak cuma hanya mencari duit, tetapi juga ikut melestarikan kebiasaan hingga kuliner saat lantas dapat bertahan di masa moderen sekarang ini.

” Jangan pernah anak cucu kita tak mengetahui gatot, cenil atau jenang grendul. Kuliner ini mesti selalu dilestarikan, ” ujarnya. Layanan paket pernikahan bogor juga menyediakan aneka masakan tradisional yang lezat untuk Anda.

Previous
Next

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*